Langsung ke konten utama

PAMOR DARI AENG TONGTONG


bingkailiputan.blogspot.com - D. Zawawi Imron lahir 1 Januari 1945 di Batang-batang, Kabupaten Sumenep Masa Pendudukan Jepang. Budayawan asal Madura ini mulai terkenal dalam dunia sastra Indonesia sejak "Temu Penyair 10 Kota" di Taman Ismail Marzuki, Jakarta pada tahun 1982. Keaktifan dan sumbangsih besar syair-syairnya dalam dunia satra membuahkan penghargaan "The S.E.A Write Award" pada tahun 2011 di Bangkok Thailand, yang diberikan keluarga kerajaan Thailand untuk para penulis di kawasan ASEAN. (Dilansir dari https://id.m.wikipedia.org)

Dilansir dari FB (Facebook) halaman Senapati Nusantara, salah satu penyair berdarah Madura ini pernah membuatkan satu puisi indah untuk menceritakan kisah para empu Sumenep Madura yang diterbitkan dalam buku "Spirit of Iron, The Life Story of Kris Crafters From Sumenep, Madura" dan dibacakan dalam peluncuran buku pada bulan Maret 2013 di University Center UGM. Sajak indahnya berbunyi sebagai berikut :

PAMOR DARI AENG TONGTONG
oleh: D. ZAWAWI IMRON

Saat ini aku ingin bicara tentang keindahan
Tapi tidak dengan kata-kata
Agar kita masih bisa membaca senyum
Yang diwariskan para empu sejak jaman purbakala
Pada saat Raden Wijaya
Mencari hidup dan hidupnya ke Sumenep
Saat petaka bikin senja di Singhasari
Dan tanah pun merah oleh darah
Dan langit pun merah oleh api

Lalu aku jadi ingat Arya Wiraraja
Yang membaca kejayaan tak cukup
Pada lembar-lembar lontar
Juga pada gelombang samudra
Dan riak-riak kecil Sungai Saroka
Namun adakah samudra yang lebih luas
Dari jiwa manusia merdeka?

Itulah kenapa kita harus membaca kembali
Sejarah yang tak sekadar mengambil abunya
Tapi, nyala yang berkobar pada keindahan pamor
Dari garis-garis misteri yang tersenyum
Yang kita tak cukup merasa kagum

Maka berdirilah kerajaan Majapahit
Yang mekar se-Nusantara
Karena keris dan tombak dari timur Madura
Yang bergambar malathe sato’or
Yang berlukis kalare sakongkong
Ikut bicara tak dengan kata
Tapi dengan gerak tubuh yang nyata
Karena pamor adalah semangat
Karena pamor adalah keringat

Aku sebut Empu Keleeng, Joko Tole
Serta Juk Kareneng dari Banuaju
Mereka telah meneteskan keringat
Untuk memberi harga dan marwah
Bagi hidup yang sebentar ini
Karena bukan garam kalau tidak asin
Bukan lombok kalau tidak pedas
Maka hidup harus menuliskan
Keindahan dengan keringat pengabdian
Hingga pamor terus bicara
Sesuai dengan tugasnya

Berbantal ombak Berselimut angin
Panjang keris memang sehasta
Tapi pamornya harus menjulang
Menjangkau bintang
Itulah isyarat yang dibaca
Bukan sebagai kata tapi sebagai makna
Karena melati tak pernah berbohong
Dengan wanginya sendiri

Melangkah dari Sumenep ke Aeng Tongtong
Sambil kubaca ilalang mendesir dan riak air
Pohon nipah menyambut angin semilir dari Asta Anggasuta
Amboi, menoleh jauh ke belakang
Bukit Papan di Batuputih hampir tak kelihatan

Tapi Aeng Tongtong
Dengan tangan-tangan yang menampilkan kembali indahnya sejarah
Terus menyalakan api membara
Hingga besi dan logam mulia kembali berjiwa
Ujung keris itu seperti meneteskan embun
Yang menjadi penyembur dahaga

Sejarah memang selalu berputar
Tapi Aeng Tongtong seperti tetap mencari makna hidupnya sendiri
Seperti keindahan yang terselip di sela sanubari
Di sini, aku ingat dulu kakek berfatwa
“Cucuku, yang sakti bukan besinya tapi hati manusianya”
(Kampus UGM Yogyakarta, 3 Maret 2013)


Potret diambil (28/10/2018) Pembukaan Festival Keraton dan Masyarakat Adat Asean ke-V tahun 2018 di Kabupaten Sumenep Madura.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cebbing Kota Keris Raih Dua Penghargaan di Ajang Puteri Muslimah Indonesia 2019

Bingkai Liputan - Puteri Muslimah Indonesia adalah kontes pencarian bakat untuk wanita Muslimah di seluruh Indonesia. Senin (29/4/2019) malam puncak yang digelar oleh Indosiar menjadi malam yang dinanti masyarakat di seluruh pelosok negeri, salah satu dari 20 finalis Puteri Muslimah Indonesia 2019 berasal dari kota Keris Sumenep, Madura, Jawa Timur. Erra Fazhira puteri sulung dari pasangan Letda Cba Heri Rachmad Efendi dengan ibu Qonita inilah satu finalis asal Sumenep yang berhasil meraih dua penghargaan dalam ajang Puteri Muslimah Indonesia 2019 yang disiarkan langsung dari studio 6 Emtek City, Daan Mogot, Jakarta Barat. Berbekal kemampuan bakat, ilmu agama dan pengetahuan, serta kegigihannya membawa cebbing Sumenep 2016 ini menjadi salah satu finalis yang lolos menuju babak 5 besar, pada babak inilah ia berhasil dinobatkan sebagai finalis terfavorit Puteri Muslimah Indonesia 2019. Perjuangan tak berhenti di situ saja, melalui persaingan yang ketat muslimah cantik ini b...

PELAJAR BERDAGANG SMA Muhammadiyah 9 Surabaya

bingkailiputan.blogspot.com -  “Terwujudnya  SMA Muhammadiyah 9 Surabaya  sebagai lembaga Islam yang berbasis Entrepreneur dengan aplikasi Multimedia, Bilingual, dan Character Building” merupakan visi dari sekolah ini, "membekali siswa dengan ilmu wirausaha adalah salah satu dari upaya mencetak calon-calon pengusaha di Indonesia", kata Ahmad Erwin Siswanto selaku kepala urusan kesiswaan. Minggu, (21/10/2018) tujuh kelompok siswa Entrepreneur Club SMA Muhammadiyah 9 Surabaya pukul 06:00 WIB tepat dijadwalkan untuk berangkat menuju Taman Bungkul Jl. Darmo, Wonokromo, Surabaya. Di tempat itu siswa diwajibkan membawa produk untuk dijual dan belajar menghadapi konsumen di setiap keadaan. Tidak ada hari Minggu yang terganggu, justru mereka berpikir yang biasanya hanya bermalas-malasan kini berubah menjadi Minggu Produktif, dengan berlatih berdagang dalam lingkungan sosial yang sangat luas hingga mereka paham bagaimana cara menghadapi dengan baik para komsume...

Ritual Sakral di Desa Keris

bingkailiputan.blogspot.com - Ritual penjamasan keris leluhur  Aeng Tongtong , dan  pusaka Keraton Sumenep  berlangsung sakral. Penyucian benda pusaka tersebut, digelar di kompleks pemakaman Bujuk Agung, Desa Aeng Tongtong, Kecamatan Saronggi,  Kabupaten Sumenep , Madura, Jawa Timur. Prosesi pembersihan keris dan pusaka yang dihadiri Bupati dan Wakil Bupati Sumenep, KH A Busyro Karim-Ahmad Fauzi itu, dilakukan secara tertutup. Setelah penjamasan selesai, pusaka tersebut diarak menuju pemakaman Bujuk Duwek diiringi kesenian tradisional. "Ada 9 keris leluhur Aeng Tong-tong, dan 2 pusaka Keraton Sumenep yang dijamas," terang Ketua Panitia Penjamasan, Wawan Novianto, Minggu (16/9/2018). Menurutnya, bukan sembarangan air yang digunakan untuk mencuci benda-benda keramat tersebut. Namun, dibutuhkan air yang bersumber dari sumur khusus dalam proses penjamasan. Salah satunya, sumber mata air yang berlokasi di Keraton Sumenep. "Air yang digunakan berasal dari t...